Terus bertambahnya kasus positif baru Covid-19 kian hari semakin mengikis kepercayaan kalangan pebisnis dan ekonom. Terlebih lagi jika melihat rumah sakit di Indonesia sendiri mulai terancam kekurangan ICU untuk pasien dengan gejala berat. Meski pemerintah sudah berusaha untuk mendorong confidence para kelas menengah ke atas, namun tampaknya mereka belum seoptimis itu.

Menurut prediksi, ekonomi baru akan tumbuh positif pada kuartal III tahun ini sampai sekitar 3,4% atau di bawah 4%. Sedangkan pada kuartal I diperkirakan masih minus, dan baru akan mendekati nol pada kuartal II. Namun demikian, Mentri Perekonomian, Airlangga Hartanto, masih merasa optimis bahwa ekonomi tetap bisa mencapai hingga 5% pada beberapa bulan yang akan datang.

Namun belajar dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV tahun 2020, yang awal mulanya diperkirakan masih berpeluang positif, ternyata minus hingga 2,2% sampai minus 1,7%. Padahal proyeksi sebelumnya hanya minus 1,7% sampai positif 0,6%. Sedangkan pertumbuhan kuartal I tahun lalu masih menginjak angka positif 2,97%, tapi sayangnya menurun di kuartal III hingga sempat mencapai minus 3,49%.

Hal tersebut menunjukkan bahwa prediksi pemerintah sudah meleset. Jika bicara soal penyebabnya, tentu saja itu semua dikarenakan oleh faktor kesehatan yang saat ini menjadi masalah berat.

Industri Berpotensi Meningkat

Jika pemerintah ingin kembali membangkitkan perekonomian Indonesia hingga mencapai 5%, hal itu tentunya harus diawali dengan penanganan pandemi Covid-19 yang dilakukan dengan baik dan benar, melalui tiga solusi. Pertama, pemerintah harus mempercepat vaksinasi, namun di samping itu tetap menegakkan protokol kesehatan selagi memberi ruang untuk mobilitas orang-orang. Kedua, pencairan dana untuk bantuan sosial harus dikerahkan dengan sebaik-baiknya, demi menjaga daya beli masyarakat menengah ke bawah. Dan ketiga, yang paling penting, meminta para kelas menengah ke atas untuk berbelanja, sebab kontribusi mereka untuk konsumsi dalam negeri mencapai hingga 84%, dan sebanyak 56%-57% perekonomian Indonesia bergantung pada hal tersebut.

Tentunya untuk kembali menarik kepercayaan para kelas menengah ke atas agar mau membelanjakan uangnya, semua itu tergantung bagaimana cara pemerintah menangani kesehatan, beserta kualitas kebijakan dari otoritas moneter dan jasa keuangan. Sebab dari sisi anggaran stimulus saja, dana Penangan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional 2021 sudah naik sampai 7,8% dari rencana semula, hingga mencapai Rp 403,9 triliun. Itu sebabnya anggaran PC-PEN harus direvisi kembali.

Selain itu, untuk tetap menjaga daya beli masyarakat dan menggerakkan perekonomian saat pandemi, seluruh dana juga harus dikucurkan sampai 100%. Pemerintah wajib belajar dari kesalahan tahun lalu, di mana anggaran PC-PEN yang mencapai Rp 695,2 triliun justru hanya terealisasikan sebesar 83,4% saja, sehingga ekonomi gagal keluar dari resesi.

Tidak hanya itu, Undang-Undang Cipta Kerja yang baru pun harus sesegera mungkin diimplementasikan demi menarik minat investasi asing maupun dalam negeri, agar membuka peluang dan kesempatan untuk menyerap banyak tenaga kerja. Di samping itu, Bank Indonesia juga perlu turut mendukung pemulihan ekonomi dengan menjaga stabilitas rupiah dan meneruskan pelonggaran kebijakan moneter.

Jika penanganan pandemi dan stimulus pemulihan ekonomi ini dilakukan dengan sebaik-baiknya, tidak menutup kemungkinan para kelas menengah ke atas akan kembali percaya untuk membelanjakan uangnya dengan berinvestasi dan ekspansi, sehingga mesin-mesin ekonomi Indonesia bisa kembali bergerak.


Related Post

Ganjil Genap dan One Way Mudik Lebaran 2022

Ganjil Genap dan One Way Mudik Lebaran 2022

Indonesia Menjadi Basis Produksi Baterai dan Kendaraan Listrik Dunia

Indonesia Menjadi Basis Produksi Baterai dan Kendaraan Listrik Dunia

Teknologi Jadi Kunci Optimalkan Industri Manufaktur di Tengah Pandemi

Teknologi Jadi Kunci Optimalkan Industri Manufaktur di Tengah Pandemi